Mendung menjelang senja..
Jingga semburat biru ditepi abu-abu..
Bumi juga biru menahan haru..
Sementara kantung mata langit mulai tebal menggantung,
Aku hanya bisa termangu..




Kaki ini harus tetap berpijak bumi. Selain untuk berlari, mereka harus lekat tanpa satu sentimeterpun boleh terangkat. Hanya dagu, mendongak ragu-ragu menantang. Masa depan seperti semakin tak berpihak marhaen yang terlantar. Siapa sekarang yang akan menyambung lidah rakyat? Paradoks kaum proletar yg terpinggirkan keadaan.


